Sabtu, 18 Mei 2013

Sejarah Singkat Buddha Gautama

Nama kecil beliau adalah Siddharta Gautama yang artinya "Yang akan tercapai segala cita-citanya".

Ayah dari Siddharta Gautama adalah Raja Suddhodana dan Ibunya bernama Ratu Mayadevi atau Mahayana.

Raja Suddhodana memerintah di kota Kavilavasthu, ibukota dari kerajaan Sakya, di daerah India Utara (sekarang kerajaan Nepal).

Pangeran Siddharta dilahirkan di Taman Lumbini di bawah pohon Sala, pada waktu bulan purnama siddhi Vesakha, kira-kira 623 SM.

Pangeran Siddharta diramalkan oleh pertapa Asita dan Kondanna bahwa kelak ia akan menjadi Buddha. Sedangkan, para brahmana istana meramalkan :
- Jika Pangeran Siddharta menjadi raja, maka ia akan menjadi seorang Raja Dunia (Cakkavatti).
- Jika Pangeran Siddharta menjadi pertapa, maka ia akan menjadi Buddha.

Ratu Mahayana meninggal dunia ketika Pangeran Siddharta berumur 7 hari. Kemudian Pangeran Siddharta dirawat oleh bibinya yang bernama Pajapati (adik kandung Ratu Mahayana) yang juga dinikahi oleh Raja Suddhodana. Dari pernikahan ini kemudian lahir seorang putra bernama Nanda dan seorang putri bernama Rupananda.

Raja Suddhodana mendirikan 3 buah istana untuk Pangeran Siddharta agar kelak beliau menjadi raja besar.

Pada usia 16 tahun, Pangeran Siddharta dinikahkan dengan putri tercantik pada waktu itu, yang bernama Yasodhara (setelah memenangkan sayembara).

Orang tua dari putri Yasodhara, ayahnya bernama Raja Suppabuddha dan ibunya bernama Ratu Pamita.

Perkawinan Pangeran Siddharta dengan putri Yasodhara memperoleh seorang putra yang bernama Rahula, yang artinya "Belenggu".

Dalam perjalanan keliling kota untuk pertama kalinya, Pangeran Siddharta melihat :
- Jinna        : seorang tua-renta
- Byadhita  : seorang sakit parah
- Kalakata  : orang mati (meninggal)
- Pabbajita : seorang pertapa

Empat peristiwa di atas yang dilihat oleh Pangeran Siddharta dikenal dengan sebutan Deva-duta (4 pesuruh dewa).

Setelah melihat 4 peristiwa tersebut, Pangeran Siddharta menyadari bahwa terlahir sebagai manusia mengalami Anicca (tidak kekal), yang menimbulkan Dukkha (penderitaan).

Kemudian, beliau bertekad untuk membebaskan manusia dari Dukkha.

Pada saat umur 29 tahun, beliau meninggalkan istana dan keluarganya untuk menjalani hidup sebagai pertapa.

Beliau bertapa di hutan Uruvela, pernah berguru kepada Alara Kalama dan Uddaka Ramaputta, tetapi dalam waktu singkat sudah dapat menyamai kepandaian gurunya.

Selanjutnya beliau menyadari apa yang telah ia capai tidak dapat melenyapkan Dukkha.

Dan memulai mencari jalan sendiri, melanjutkan pertapaan yang ekstrim (menyiksa diri) bersama kelima temannya yaitu Kondanna, Mahanama, Assaji, Bhaddiya dan Vappa.

Namun usaha beliau tidak berhasil dan hampir mati, seorang gembala menolongnya dengan memberikan sedikit bubur, kemudian sadar kalau menyiksa diri bukanlah cara untuk melenyapkan Dukkha.

Tersadarkan dengan keadaan tersebut, beliau mengetahui hanya kesucian pikiranlah yang dapat melenyapkan Dukkha.

Akhirnya beliau mulai makan satu kali sehari sebelum pukul 12 siang.

Cara hidup seperti ini disebut Majjhima Patipada, yang artinya Jalan tengah yang menghindari dua eksrtim, hidup menyiksa diri dan hidup berfoya-foya.

Dengan menjalani cara hidup seperti ini, kelima teman beliau meninggalkannya dan berpendapat bahwa beliau bukanlah seorang pertapa lagi.

Sebelum mencapai tingkat kesucian tingkat Buddha, makanan terakhir yang beliau terima berasal dari seorang wanita yang bernama Sujata.

Pangeran Siddharta mencapai kesucian tingkat Buddha di bawah pohon Bodhi di hutan Gaya pada saat purnama siddhi Vesakha dalam usia 35 tahun.

Buddha berarti yang telah sadar, telah bangun, atau telah mencapai penerangan sempurna.

Kemampuannya seperti :
- Pubbenivasanussatinana : kemampuan untuk mengingat tumimbal lahir yang dahulu.
- Dibbacakkhunana : mata batin, kemampuan untuk melihat alam-alam halus dan sanggup melihat muncul lenyapnya mahluk-mahluk yang bertumimbal lahir sesuai dengan kammanya masing-masing.
- Asava kkhayanana : kemampuan memusnahkan asava (kotoran batin).
- Cetopariyanana : kemampuan untuk membaca pikiran mahluk-mahluk lain.
- Dibbasotanana : telinga batin, kemampuan untuk mendengar suara-suara dari alam apaya, alam manusia, alam dewa, dan alam brahma, yang dekat maupun jauh.
- Iddhividhanana : kekuatan magis, yang terdiri atas :
a. Adhittana-iddhi : dengan kekuatan kehendak mengubah tubuh menjadi banyak dan sebaliknya.
b. Vikubbana-iddhi : kemampuan untuk menyalin rupa menjadi anak kecil, raksasa, membuat diri menjadi tidak tertampak.
c. Manomaya-iddhi : kemampuan untuk mencipta dengan kekuatan pikiran, seperti menciptakan harimau, dewi, pohon dsb.
d. Nanavipphara-iddhi : pengetahuan menembus ajaran.
e. Samadhivipphara-iddhi : konsentrasi, lebih jauh memiliki : menembus dinding, tanah dan gunung. Menyelam ke bumi bagai menyelam ke dalam air. Kemampuan berjalan di atas air, melawan api, dan terbang di angkasa.

* Asavakkhayanana disebut Lokuttara-abhinna (tenaga batin luhur), sedangkan yang lainnya disebut Lokiya-abhina (tenaga batin duniawi).

Sang Buddha Gautama pertama kali menyebarkan Dhamma di Taman Rusa Isipatthana kepada 5 orang pertapa yang dahulu pernah bersamanya.

Khotbah pertama pada saat purnama siddhi Asalha (Asadha) dikenal dengan Dhammacakka pavatthana (Pemutaran Roda Dhamma).

Setelah mendengar khotbah tersebut, kelima pertapa mencapai tingkat kesucian dan menjadi pengikut Buddha sebagai Bhikkhu.

Pengikut Buddha yang pertama sebagai Upasaka adalah dua orang saudagar yang bernama Tapussa dan Balikha.

Mereka berdua bertemu Sang Buddha dalam perjalanan dari Uruvela menuju Isipatthana, sebelum khotbah pertama.

Murid pertama Sang Buddha sebagai Bhikkhu setelah kelima pertapa adalah seorang putra hartawan dari Benares bernama Yasa.

Pengikut wanita pertama sebagai Upasika adalah ibu dari Yasa.

Sang Buddha menerima murid calon Bhikkhu masuk menjadi anggota Sangha dengan mengucapkan "Ehi Bhikkhu" yang berarti "marilah Bhikkhu". Cara ini disebut Ehi Bhikkhu Upasampada.

Calon Bhikkhu mencukur rambutnya dengan mengucapkan Tisarana (Tiga Perlindungan). Cara ini disebut Tisarana Gamana Upasampada. Dua cara ini sekarang sudah tidak dipergunakan lagi untuk penerimaan anggota Sangha.

Cara yang sekarang adalah :
- Calon harus menjadi Samanera dahulu.
- Setelah dinilai cukup memenuhi syarat, barulah kemudian Sangha berkumpul untuk menentukan penerimaan anggota Sangha (cara ini disebut Natti Catutthakamma Upasampada, yang artinya penerimaan melalui persidangan Sangha yang jumlah persamaan Sangha ditentukan).

Syarat menjadi Bhikkhu :
- Seorang laki-laki, bukan orang cacat, mencapai usia 20 tahun dihitung sejak dalam kandungan ibunya, belum pernah melakukan perbuatan jahat (akusalagaruka-kamma) sebelumnya, belum pernah melakukan perbuatan jahat terhadap ajaran Sang Buddha.

Murid-murid Sang Buddha :
Y.A Sariputta (memiliki kebijaksanaan tertinggi).
Y.A Moggalana (memiliki kesaktian tertinggi).
Y.A Ananda (melayani paling lama Sang Buddha, mengabdi selama 25 tahun).
Y.A Angulimala (berasal dari seorang penjahat).
Y.A Pajapati (murid pertama yang menjadi Bhikkhuni).
Rahula (murid pertama yang menjadi Samanera, di usia 7 tahun).

Sang Buddha menunjukkan kemampuan seorang Buddha sebelum memasuki kota Kavilavastu ketika beliau akan menjumpai Raja Suddhodana.

Yang memberikan makanan terakhir sebelum Sang Buddha Gautama wafat (parinibbana) adalah seorang pancai besi bernama Canda.

Sang Buddha mencapai parinibanaa di bawah pohon Sala kembar di Kusinara pada saat purnama siddhi Vesakha tepat pada usia 80 tahun.

Tahun Buddha dimulai perhitungannya ketika Buddha Gautama parinibbana.

Setelah Sang Buddha mencapai parinibbana diadakannya Sanghasamaya yang pertama di Rajagaha, untuk menghimpun ajaran Buddha Gautama, dihadiri 500 Arahat di bawah ajaran Y.A Maha Kassapa.

Yang mengulangi Vinaya yang telah diadakan Sang Buddha Gautama disebut Vinaya Pittaka adalah Y.A Upali.

Yang mengulangi Sutta yang telah dikhotbahkan oleh Sang Buddha Gautama disebut Sutta Pittaka adalah Y.A Ananda.

Yang mengulangi Abhidhamma yang telah dikhotbahkan Sang Buddha Gautama disebut Abhidhamma Pitaka adalah Y.A Maha Kassapa.

Pesan Sang Buddha Gautama sebelum Parinibbana adalah "Vayo dhamma sankhara, sabbe sankhara anicca, apamadena sampadetha". Yang artinya semuanya tidak kekal, berjuanglah dengan sungguh-sungguh agar mencapai kesucian.

Yang berhasi menyelesaikan perselisihan dalam pembagian relic Sang Buddha Gautama adalah Brahmana Dona, dan membagi relic Sang Buddha Gautama menjadi 8 bagian.


Sumber : Buku Vijja-Dhamma

3 komentar: